Dalam kehidupan sehari-hari, gangguan pendengaran sering dianggap sebagai hal yang biasa terjadi, terutama seiring bertambahnya usia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini tidak hanya memengaruhi kemampuan mendengar, tetapi juga dapat berkaitan dengan kesehatan lainnya. Gangguan pendengaran yang tidak diatasi bisa menyulitkan komunikasi sehari-hari, baik bagi penderitanya maupun orang-orang terdekatnya. Selain itu, penelitian dari Johns Hopkins University menunjukkan bahwa gangguan pendengaran yang tidak diatasi dapat berkaitan dengan berbagai masalah lainnya seperti isolasi sosial karena kendala komunikasi, depresi, dan peningkatan risiko jatuh hingga demensia. Demensia adalah kondisi penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, berpikir, dan bahasa sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam sebuah studi yang melibatkan 639 orang dewasa selama hampir 12 tahun, para ahli dari Johns Hopkins menemukan bahwa gangguan pendengaran dapat berkaitan dengan peningkatan risiko demensia. Untuk gangguan pendengaran tingkat sedang risiko yang dilaporkan dapat meningkatkan hingga tiga kali lipat, sementara pada tingkat berat dapat mencapai hingga lima kali lipat berisiko mengalami demensia.
Hubungan Antara Pendengaran dan Kesehatan
Penelitian dari Johns Hopkins University terhadap 126 orang dewasa lanjut usia menggunakan pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) menemukan bahwa gangguan pendengaran berkaitan dengan percepatan penyusutan (atrofi) otak, terutama pada bagian yang berhubungan dengan pendengaran dan memori. Selain itu, gangguan pendengaran juga dapat berkaitan dengan isolasi sosial. Orang yang mengalami gangguan pendengaran biasanya cenderung menarik diri untuk tidak berinteraksi atau kurang aktif dalam percakapan. Hal-hal tersebut yang dapat berkontribusi pada terjadinya demensia.
Saat Anda berjalan, sistem vestibular (sistem sensorik yang berfungsi mengatur keseimbangan, menjaga stabilitas pandangan / gerak mata, dan mengontrol postur tubuh) yang terletak di telinga bagian dalam, membantu otak merasakan gerakan, posisi kepala, dan keseimbangan tubuh melalui sinyal-sinyal halus yang dikirim ke otak. Pada saat yang sama, otak individu yang mengalami gangguan pendengaran harus bekerja lebih keras hanya untuk memproses suara. Tanpa disadari, melakukan beberapa aktivitas sekaligus (multitasking) dapat mengganggu fokus untuk berjalan sehingga hal ini bisa memengaruhi keseimbangan terganggu sampai dengan risiko jatuh.
Penyebab dan Gejala Awal
Gangguan pendengaran bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti faktor genetik, terkait usia (presbikusis), paparan suara keras, obat-obatan, cedera kepala, hingga infeksi telinga. Kesulitan mendengar suara lembut atau suara bernada tinggi sering menjadi tanda awal kerusakan pada stereosilia (sel rambut halus di telinga bagian dalam) yang berfungsi mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik. Contoh dari suara lembut di antaranya adalah percakapan telepon dan suara berbisik, sedangkan salah satu contoh suara tinggi adalah suara anak-anak. Selain itu, telinga berdenging (tinitus) bisa juga merupakan tanda awal gangguan pendengaran.
Gangguan Pendengaran dan Otak
Menurut laporan tahun 2020 dari The Lancet Commission, gangguan pendengaran merupakan salah satu faktor risiko utama demensia. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut beberapa penjelasannya:
- Beban kerja otak dan isolasi sosial
Gangguan pendengaran membuat otak bekerja lebih keras untuk memahami suara dan mengisi bagian yang tidak terdengar. Hal ini mengurangi kapasitas untuk berpikir dan mengingat.
- Penyusutan otak
Kemungkinan lainnya adalah gangguan pendengaran juga di kaitkan dengan menyebabkan otak menyusut lebih cepat, yang dapat memengaruhi fungsi kognitif.
- Kurang aktif secara sosial
Kemungkinan ketiga adalah gangguan pendengaran menyebabkan seseorang cenderung menarik diri dari percakapan dan kurang terlibat secara sosial. Padahal interaksi sosial sangat penting untuk menjaga stimulasi dan aktivitas otak.
Jika Anda tidak dapat mendengar dengan baik, Anda cenderung lebih jarang berinteraksi, sehingga otak menjadi kurang aktif.
Mengurangi Risiko Demensia
Penelitian menunjukkan bahwa gangguan pendengaran pada lansia berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, dan penggunaan alat bantu dengar juga diduga dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif. Untuk membuktikan hal ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Frank Lin dari Universitas Johns Hopkins melakukan uji klinis terhadap hampir 1.000 orang berusia 70–84 tahun. Penelitian ini membandingkan kelompok yang menggunakan alat bantu dengar dengan yang tidak selama tiga tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan kognitif antara kedua kelompok. Namun, pada peserta dengan risiko demensia lebih tinggi, penggunaan alat bantu dengar terbukti dapat memperlambat penurunan kognitif hingga hampir 50%, sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi mereka.
Banyak manfaat dari alat bantu dengar yang dapat Anda rasakan. Jadi, jika Anda merasa mengalami gangguan pendengaran sebaiknya segera mengunjungi penyedia layanan pendengaran terdekat dan melakukan pemeriksaan pendengaran. Untuk informasi lebih lanjut atau untuk membuat janji pemeriksaan pendengaran atau informasi seputar alat bantu dengar, silakan klik simbol WhatsApp di kiri bawah halaman ini, hubungi 0800 100 2234 (layanan bebas pulsa) atau kunjungi cabang ABDI terdekat di kota Anda.
–
Sumber :
https://publichealth.jhu.edu/2021/hearing-loss-and-the-dementia-connection
https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/the-hidden-risks-of-hearing-loss
https://www.nih.gov/news-events/nih-research-matters/hearing-aids-slow-cognitive-decline-people-high-risk





