Apa Itu Ototoksisitas?
Ototoksisitas adalah kondisi di mana telinga mengalami ”keracunan” akibat obat atau bahan kimia tertentu. Keracunan ini bisa merusak telinga bagian dalam atau saraf vestibulo-koklear, yaitu saraf yang membawa sinyal pendengaran dan keseimbangan dari telinga ke otak. Akibatnya, seseorang bisa mengalami gangguan pendengaran dan keseimbangan. Ototoksisitas dapat menyebabkan gangguan pada pendengaran, seperti suara terdengar kecil atau berdenging, masalah keseimbangan dan/atau keduanya. Berbagai hal bisa menyebabkan ototoksisitas, mulai dari obat bebas, obat resep, serta bahan kimia di lingkungan. Jadi, jika menggunakan obat yang berisiko tinggi, penting untuk memantau kesehatan telinga secara rutin.
Tingkat dan kemungkinan terjadinya keracunan pada telinga bergantung pada jenis obat dan faktor lain, seperti keturunan. Ototoksisitas bisa bersifat sementara atau permanen. Beberapa obat menimbulkan efek yang hanya berlangsung sementara, sedangkan lainnya dapat menyebabkan kerusakan permanen. Namun, penting untuk diketahui bahwa sebagian besar orang yang mengalami ototoksisitas mengalami gejala ringan yang biasanya tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seberapa Umum Ototoksisitas?
Saat ini, belum ada angka pasti mengenai berapa banyak orang yang mengalami ototoksisitas setiap tahun atau seberapa besar perannya dalam gangguan keseimbangan. Namun, jika ototoksisitas bersifat berat dan permanen, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
Zat Apa Saja yang Menyebabkan Ototoksisitas?
Untuk menentukan apakah suatu obat bersifat ototoksik memerlukan penelitian ilmiah yang memakan waktu lama. Food and Drug Administration (FDA) atau badan pengawas obat di Amerika Serikat juga tidak mewajibkan perusahaan obat untuk melakukan pengujian efek obat pada telinga bagian dalam sebelum dipasarkan. Karena itu, sulit untuk memastikan secara pasti obat mana yang menyebabkan ototoksisitas.
Biasanya, masalah baru akan diketahui setelah banyak orang yang mengalami gejala dan tenaga kesehatan mulai melihat pola keterkaitan antara obat tertentu dengan gangguan pada pasien. Hal ini pernah terjadi pada aspirin dan quinine sejak dahulu, kemudian streptomisin pada 1940-an, dan beberapa obat kanker belakangan ini.
Banyak bahan kimia, baik obat bebas, obat resep, maupun bahan kimia lingkungan yang diduga dapat menyebabkan ototoksisitas, meskipun penelitian masih terbatas. Berikut beberapa zat yang dapat menyebabkan ototoksisitas:
-
Aspirin dan quinine
Aspirin (obat nyeri, demam, dan pencegah penggumpalan darah) dan quinine (obat untuk mengobati malaria) dapat menyebabkan ototoksisitas sementara, dengan gejala seperti tinnitus (telinga berdenging) dan terkadang menurunkan ambang pendengaran, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi. Produk quinine juga dapat memengaruhi keseimbangan sementara. Gejala-gejala tersebut biasanya hilang setelah penggunaan dihentikan.
-
Diuretik loop
Diuretik loop adalah jenis obat “pelancar urin” yang kadang menyebabkan ototoksisitas sementara, menimbulkan gejala seperti tinnitus dan/atau gangguan pendengaran. Risiko meningkat jika digunakan bersamaan dengan antibiotik aminoglikosida. Contoh obat: bumetanide (Bumex), ethacrynic acid (Edecrin), furosemide (Lasix), torsemide (Demadex).
-
Antibiotik aminoglikosida
Antibiotik aminoglikosida digunakan untuk mengobati infeksi bakteri berat, antibiotik ini bekerja dengan menghambat pembentukan protein bakteri, sehingga bakteri tidak bisa hidup dan berkembang. Karena itu, antibiotik ini dapat menyebabkan kerusakan pendengaran atau keseimbangan yang permanen jika masuk ke telinga bagian dalam. Obat jenis ini dapat masuk ke telinga bagian dalam melalui aliran darah atau langsung dari telinga tengah (contohnya obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida).
Risiko ototoksisitas meningkat bila:
- penggunaan bersamaan dengan obat ototoksik lain
- pengguna mengalami gangguan fungsi ginjal
- faktor genetik tertentu
- digunakan dalam dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang
Contoh obat aminoglikosida: amikacin, netilmicin, dihydrostreptomycin, ribostamycin, gentamicin, streptomycin, kanamycin, tobramycin, dan neomycin.
-
Obat kanker (anti-neoplastik)
Beberapa obat kanker, seperti cisplatin dan carboplatin, diketahui dapat menyebabkan kerusakan pendengaran permanen.
-
Bahan kimia lingkungan
Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan masalah keseimbangan. Contohnya: butyl nitrite, merkuri, karbon disulfida, styrene, karbon monoksida, timah, mangan, toluene, xylene, dll.
Ototoksisitas, Gangguan Pendengaran, dan Keseimbangan
Dua area utama dapat rusak akibat ototoksisitas: sel-sel rambut di dalam telinga bagian dalam dan saraf vestibulokoklear yang menghubungkan telinga ke otak. Ketika kerusakan pada area ini dapat menimbulkan berbagai tingkat gangguan pendengaran serta masalah keseimbangan, tergantung pada bagian yang terdampak.
Cochleotoxicity (kokleotoksisitas) adalah kerusakan yang terjadi pada koklea/saraf koklear. Koklea atau yang sering disebut rumah siput, merupakan bagian telinga dalam yang berfungsi mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik sebelum dikirim ke otak. Ketika bagian ini mengalami kerusakan, seseorang dapat mengalami gangguan pendengaran atau munculnya tinnitus (sensasi suara berdenging di telinga). Vestibular ototoxicity atau vestibulotoxicity (vestibulotoksisitas) berarti kerusakan yang terjadi pada organ keseimbangan atau saraf vestibular, yang dapat memengaruhi kemampuan tubuh menjaga keseimbangan dan arah saat bergerak.
Gejala Ototoksisitas
Gejala kokleotoksisitas dapat bervariasi, mulai dari tinnitus ringan hingga kehilangan pendengaran total. Tingkat keparahannya berbeda pada setiap individu serta tergantung durasi dan jumlah paparan terhadap zat ototoksin. Gejala yang muncul dapat berupa kehilangan pendengaran pada satu telinga atau kedua telinga, serta tinnitus yang bisa bersifat menetap atau berubah-ubah.
Gejala vestibulotoksisitas dapat bervariasi, mulai dari ketidakseimbangan ringan hingga ketidakmampuan total. Tingkat keparahannya tergantung pada seberapa cepat kerusakan terjadi, apakah terjadi pada satu sisi atau dua sisi, dan sudah berapa lama kerusakan itu berlangsung. Kehilangan fungsi vestibular yang berkembang secara perlahan pada satu sisi mungkin tidak menimbulkan gejala apa pun, sebaliknya kerusakan yang terjadi secara cepat dapat menyebabkan vertigo, muntah, dan nistagmus (gerakan mata yang cepat, berulang dan tidak terkontrol), bahkan hingga membuat seseorang harus beristirahat di tempat tidur selama beberapa hari. Sebagian besar kasus membaik secara bertahap, sehingga penderitanya dapat kembali menjalani aktivitas normal.
Kehilangan fungsi vestibular pada kedua sisi akibat vestibulotoksisitas biasanya menyebabkan berbagai gejala seperti sakit kepala, rasa penuh di telinga, ketidakseimbangan hingga tidak mampu berjalan, serta penglihatan yang berayun dan kabur (osilopsia), disertai vertigo, muntah, dan nistagmus yang intens. Kondisi ini juga sering membuat seseorang tidak tahan dengan gerakan kepala, berjalan dengan posisi kaki lebih lebar dari biasanya, kesulitan berjalan dalam gelap, merasakan ketidakstabilan, kepala terasa ringan, dan mengalami kelelahan berat. Jika kerusakannya sangat parah, gejala seperti osilopsia dan kesulitan berjalan dalam gelap atau dengan mata tertutup mungkin tidak membaik seiring waktu.
Bagaimana Cara Mendiagnosis Ototoksisitas?
Saat ini, tidak ada satu tes khusus untuk mendiagnosis ototoksisitas. Diagnosis biasanya didasarkan pada:
- Riwayat penggunaan obat atau paparan bahan kimia yang berpotensi ototoksik
- Gejala yang muncul, seperti gangguan pendengaran, tinnitus, atau masalah keseimbangan
- Hasil tes pemeriksaan pendengaran dan keseimbangan
Beberapa tes yang dapat dilakukan meliputi: audiometri, ABR (Auditory Brainstem Response), OAE (otoacoustic emissions), ENG (electronystagmography), rotary chair, posturography, EcoG (electrocochleography), dan tes lainnya sesuai kondisi pasien.
Pengobatan untuk Ototoksisitas
Saat ini belum ada pengobatan yang dapat membalikkan kerusakan akibat ototoksisitas. Perawatan yang tersedia lebih berfokus pada mengurangi dampak kerusakan dan membantu merehabilitasi fungsi yang terganggu. Misalnya orang yang mengalami penurunan pendengaran dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
Ketika terjadi kehilangan fungsi keseimbangan, terapi fisik dapat membantu otak menyesuaikan diri dengan sinyal keseimbangan yang berubah dari telinga bagian dalam. Terapi fisik juga mengajarkan cara lain untuk mempertahankan keseimbangan, seperti memanfaatkan penglihatan dan propriosepsi (sensasi posisi dan gerakan tubuh yang dirasakan melalui telapak kaki, pergelangan kaki, lutut, dan pinggul) selain itu, program latihan fisik umum dan latihan khusus untuk memperkuat otot dapat mendukung kestabilan dan koordinasi tubuh.
Pencegahan Ototoksisitas
Untuk mengurangi resiko ototoksisitas: Batasi penggunaan obat, konsumsi obat hanya jika benar-benar diperlukan dan ikuti petunjuk penggunaan dengan cermat, terutama untuk obat-obatan yang diresepkan. Jika memungkinkan, hindari mengonsumsi beberapa jenis obat ototoksik sekaligus (aspirin, quinine, diuretik loop, dan aminoglikosida). Saat bekerja dengan bahan kimia berbentuk uap yang berpotensi ototoksik, pastikan ventilasi yang baik. Buka jendela, nyalakan kipas, dan hindari penggunaan bahan kimia lebih lama dari yang diperlukan. Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Menghindari zat ototoksik juga sangat penting karena orang yang pernah mengalami ototoksisitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali jika terpapar. Tanda medis (medic alert tag) dapat membantu memberi peringatan kepada tenaga kesehatan tentang perlunya menghindari pemberian obat ototoksik, kecuali jika sangat diperlukan. Tanda tersebut juga bisa memberi informasi mengenai penurunan fungsi keseimbangan dan/atau pendengaran yang sudah ada.
Jika ada keluhan atau perubahan pada pendengaran Anda, silakan klik simbol WhatsApp di kiri bawah halaman ini, hubungi 0800 100 2234 (layanan bebas pulsa) atau kunjungi website kami untuk konsultasi lebih lanjut dengan konsultan pendengaran kami. Salam sehat selalu.
–
Sumber :
https://vestibular.org/article/diagnosis-treatment/types-of-vestibular-disorders/ototoxicity/





